Sabtu, 08 Januari 2011

Adat Buka Tanah : Dayak Kayong Sungai Laur – Ketapang Kalbar


ngobrol-ngorbrol dengan tokoh adat
ngobrol-ngorbrol dengan tokoh adat
Sungai Laur terletak di Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Kecamatan ini terdiri dari bebarapa desa yang mayoritas dihuni oleh suku dayak Kayong. Saat saya sampai di desa Semapo Kecamatan Sungai Laur sedang ada acara adat buka tanah, yaitu acara adat untuk mengawali suatu kegiatan penggalian tanah atau penebangan pohon.
Dayak Kayong yang menjadi mayoritas masyarakat di Kecamatan Sungai Laur masih memegang teguh tradisi peninggalan leluhur mereka. Adat-istiadat dari acara orang menikah, melahirkan, meninggal, menanam dan memanen padi, atau membuka lahan pasti didahului dengan acara adat untuk memohon keselamatan dan berkah dari alam dan Tuhan. Agama Katholik masih menjadi mayoritas agama yang dianut oleh masyarakat Dayak Kayong, jadi peran tokoh agama terutama Pastor di daerah sini masih sangat signifikan.
Acara adat buka tanah biasanya dimulai dengan pemotongan ayam dan penyiapan sesaji berupa beras dan sesaji lain. Setelah dibacakan doa-doa oleh tokoh adat selanjutnya ayam dipotong. Darah dari ayam tersebut ditempatkan dalam suatu tempat kemudian dicampur dengan beberapa bulu ayam.
rumah penyimpan padi dayak kayong
rumah penyimpan padi dayak kayong
Ternyata campuran darah dan bulu ini ada manfaat dan arti simbolisnya, saya sebagai orang luar diberi bulu ini di kepala, demikian juga beberapa teman yang datang, setiap kepala diberi sedikit bulu sebagai tolak bala.
Setelah itu baru diadakan acara bergendang, atau nyayian-nyanyian warga dayak kayong.  Tentu saja dalam acara ada pembagian arak dan tuak dan saya tidak mau melewatkan acara ini. Tuak merah, yaitu minuman mengandung alkhohol hasil ferementasi ketan hitam, rasanya sangat enak dan membuat tubuh hangat. Mabuk tuak lebih lama daripada mabuk arak. Tuak lebih manis daripada arak. Bagi para drunken master ditanggung betah dan ketagihan menikmati tuak merah khas dayak ini.
Saya sempat mampir di rumah untuk  menyimpan padi. Saya tidak tahu bagaimana warga dayak kayong menyebut bangunan ini, kalau warga dayak kanayatn / dayak ahe menyebutnya dengan dangau. Bangunan ini unik, mirip rumah adat dayak pada umumnya, cuma atapnya sudah memakai seng, bukan dari sirap. Tapi struktur dan motifnya masih jelas menunjukkan ciri khas bangunan dayak.
Banyak bangunan dengan ciri khas adat dayak ada di kalimantan ini. Beberapa mulai rusak karena sudah tua, ada juga yang baru tetapi sudang mulai menggunakan bahan-bahan modern. Bangunan dalam gambar tersebut setengah-setengah. Atapnya sudah menggunakan seng, tetapi tangganya masih menggunakan tangga dari batang ulin. Tangga ini adalah tangga khas rumah adat suku Dayak. Pelestarian rumah dan bangunan suku dayak harus ditingkatkan sebagai budaya Indonesia yang mempunyai nilai khusus.
Investor-investor yang tidak bertanggungjawab mulai masuk ke dalam tanah orang dayak. Kadang mereka hanya mengambil kekayaan alam masyarakat dayak dan melupakan kewajiban mereka selaku investor seperti melakukan program corporate social responsibilityyang berkelanjutan (sustainable CSR). Contoh lain hanya mengambil mineral sebagai bahan galian tambang tanpa melakukan revegetasi dan reklamasi. Perusahaan-perusahaan ini harus diberi sanksi secara tegas karena yang mereka lakukan sebenarnya adalah menghancurkan lingkungan dan ekologinya termasuk manusia dan peradabannya.
Hutan, tanah dan air adalah identitas utama bagi masyarakat dayak. Hutan harus diselamatkan supaya air tetap terjaga. Tanah harus tetap dijaga jangan sampai diekspansi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, karena pindahnya kepemilikan tanah akan mengancam hutan yang berada di atas tanah tersebut. Ketika identitas masyarakat dayak mulai tergerus maka budayanya pun akan luntur, relakah kita? Tentu tidak!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar